HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP TERHADAP PERILAKU SEKSUAL BEBAS PADA SISWA DI SMK BINA HARAPAN SINDUHARJO SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN 2010

Posted by infoku on Friday, October 14, 2011

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP TERHADAP PERILAKU SEKSUAL BEBAS PADA SISWA DI SMK BINA HARAPAN SINDUHARJO SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN 2010
By Noerma Ismayuca
ABSTRACT

Background: Free sex from year to year continue to increase. In preliminary studies have been carried out from February to March 2010, obtained information that the SMK Bina Harapan Sinduharjo in Sleman, from 1984 - 2009 that every year there are cases of pregnancy out of wedlock at least one to three cases.
Method: The analytical study of correlation, cross sectional approach. Collecting data using questionnaires Level Reproductive Health Knowledge and Attitudes towards Free Sex kuisisoner. Some 71 research subjects of the total population of 71 respondents which was taken by total sampling. analysis techniques to test the hypothesis used Pearson Product Moment at 95% confidence level.

 Results: The level of student knowledge about reproductive health is largely (40%). Most respondents did not support free sex is as much as 75%. There is a correlation between the level of knowledge about reproductive health with the attitude toward sex Free on students in vocational Binaharapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta, is shown by calculating r and p-value.

Conclusion: There is a relationship between level of knowledge about health rerpoduksi with attitudes toward sex, means that the higher level of knowledge about reproductive health so more do not support Free Sex. Based on that education be recommended for a more active role in providing sound information about reproductive health and to give moral and religious education provision is good and strong to teens so teens do not easily fall into free sex.
Keywords: level of knowledge, Reproductive Health, Attitude, Behavior,Free Sex.

PENDAHULUAN

Informasi Kesehatan Reproduksi bagi remaja terasa bermanfaat apabila kejadian kenakalan remaja, seperti kehamilan tidak diinginkan, pergaulan bebas, narkotika, perkosaan dan sejenisnya mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Selama ini pro dan kontra masih saja mengalir, baik dari sisi orang tua maupun remaja itu sendiri. Orang tua yang setuju apabila remaja diberi bekal informasi Kesehatan Reproduksi berharap pada guru-guru dari remaja mereka untuk bertanggung jawab menyampaikan informasi tersebut. Bagi remaja yang pro dengan informasi Kesehatan Reproduksi mereka menuntut agar guru-gurunya memberitahu masalah itu. Namun, bagi orang tua yang kontra, mereka khawatir apabila remaja diberi bekal pengetahuan informasi Kesehatan Reproduksi justru akan memicu remaja untuk mencoba-coba. Remaja yang tidak setuju dengan pemberian informasi Kesehatan Reproduksi juga mengaku mereka malu untuk menerima informasi tersebut, jadi tidak perlu diberi bekal. Walau sebenarnya cukup banyak remaja merasa haus informasi Kesehatan Reproduksi, namun teerhalang oleh rasa malu karena terkondisikan dalam keluarga mereka bahwa informasi Kesehatan Reproduksi merupakan hal yang tabu. Biasanya orang tua yang masih menanamkan “tabu” akan informasi Kesehatan Reproduksi, mereka belum banyak memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan informasi Kesehatan Reproduksi.
Di era sekarang ini, Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta menemukan 26,35 persen dari 846 peristiwa pernikahan telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah di mana 50 persen di antaranya menyebabkan kehamilan. Di Kabupaten Kulon Progo sendiri berdasarkan pantauan Dinas Kesehatan tahun 2006, sekitar 44 persen calon pengantin baru yang melakukan tes kehamilan telah diketahui positif hamil, dan yang mengejutkan, sebagaimana direlease oleh BKKBN online, sekarang ini tiap hari ada 100 remaja yang melakukan aborsi karena kehamilan di luar nikah. Jika dihitung per tahun, 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Ini menunjukkan pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini, sangatlah memprihatinkan.
Menurut hasil penelitian Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI pada tahun 1990 terhadap siswa siswi di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan senggama adalah: membaca buku porno dan menonton film biru (54,39% di Jakarta dan 49,2% di Yogyakarta). Motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka (76% di Jakarta dan 75,6% di Yogyakarta), Kebutuhan biologik 14 – 18% dan merasa kurang taat pada nilai agama antara 20 – 26%.
Berdasarkan indikasi diatas menunjukkan bahwa problem kesehatan reproduksi remaja sudah saatnya memperoleh suatu perhatian yang serius bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Remaja perlu dibekali pendidikan seks yang benar dan memadai. Pendidikan seks bukan untuk mendorong remaja melakukan hubungan seks pranikah, tetapi lebih ditekankan pada pemberian pemahaman terhadap dampak-dampak negative yang harus mereka tanggung jika melakukan hubungan seks pranikah termasuk resiko kehamilan di luar nikah. Pemerintah dapat bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah, agar pelajaran tersebut dapat diikuti semua siswa. Disamping itu orang tua seharusnya memberitahu tentang reproduksi yang sehat dan memberikan pengawasan kepada anaknya, terutama setelah mencapai pubertas.
Berdasarkan studi pendahuluan, dan berdasarkan informasi dari guru, dari mulai tahun 1984 sampai tahun 2009 setiap tahunnya terdapat kasus yang mengalami kehamilan di luar nikah sedikitnya 1 sampai 3 kasus., maka permasalahan yang akan ditelusuri di dalam penelitian ini adalah : “Adakah Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Bebas Pada siswa Di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta?”.
Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas pada siswa di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta.

BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross Sectional dan dilaksanakan di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta, yang berlangsung pada bulan juli 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, dan XII SMK Bina Harapan Sinduharjo Yogyakarta yang berjumlah 71 siswa, terdiri  dari 41 siswa putra dan 30 siswa putri, yang terbagi dalam 3 kelas. Kelas X terdiri dari 29 siswa. Kelas XI terdiri dari 22 siswa. Sedangkan kelas XII terdiri dari 20 siswa.
Penentuan jumlah sampel minimal dalam penelitian ini menggunakan sampel jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, XI, dan XII SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta, yang berjumlah 71 orang.
Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan kuesioner tertulis. Kuesioner ini digunakan untuk mengukur 2 variabel sekaligus yaitu variabel tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi berupa kuesioner tes. Variabel sikap terhadap perilaku seksual bebas pada remaja, berupa kuesioner non tes.
1.   Alat yang digunakan dalam pengumpulan data variabel tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi :
Adalah kuesioner yang terdiri dari 23 butir pertanyaan yang mencakup pengertian, anatomi organ repoduksi, proses reproduksi, perubahan-perubahan pada masa reproduksi remaja, kehamilan dan penyakit menular seksual dan merupakan data primer yang didapatkan secara langsung dari hasil kuesioner yang telah terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data variabel sikap terhadap perilaku seksual bebas :
2.   Alat pengumpulan data untuk variabel sikap terhadap perilaku seksual bebas pada remaja dari 12 butir pertanyaan yang mencakup sikap terhadap aktivitas seksual bebas, sikap tehadap penyakit IMS, dan sikap terhadap cara menhindari seks bebas dan merupakan data primer yang didapatkan secara langsung dari hasil kuesioner yang telah terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya.


Metode pengumpulan data yaitu kuesioner, peneliti membagikan 4 lembar kuesioner yang terdiri dari kuesioner tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dan kuesioner sikap terhadap perilaku seksual bebas kepada responden dengan jenis pertanyaan tertutup dimana responden dapat memilih alternatif jawaban yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk didalam pertanyaan yang disusun terlebih dahulu sehingga responden tidak mempunyai kebebasan memilih jawaban kecuali yang telah diberikan oleh peneliti (Notoatmojo, 2005). Sebelum kuesioner dibagikan, peneliti membagi lembar informed consent atau surat kesediaan untuk menjadi responden untuk diisi dan ditandatangani. Apabila responden sudah mengisi dan menandatangani lembar informed consent maka responden dinyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian tersebut, kemudian peneliti membagikan kuesioner untuk diisi sesuai dengan petunjuk yang telah disediakan dan dikumpulkan pada hari itu juga untuk dilakukan pengolahan data. Penelitian ini dibantu oleh guru BK SMK Bina Harapan Sinduharjo Yogyakarta, yang bertugas membagikan kuesioer dan memberi penjelasan tentang cara pengisian kuesioner, setelah semua responden mengisi lembar kuesioner maka Guru BK mengumpulkan kembali lembar kuesioner dan meneliti apakah jumlah lembar kuesioner yang dibagikan dan yang dikumpulkan sama untuk mengantisipasi kemungkinan lembar kuesioner yang hilang atau rusak. Setelah semua lembar kuesioner diteliti dan dinyatakan tidak hilang atau rusak maka peneliti mengambil lembar kuesioner yang telah dikumpulkan oleh Guru BK untuk selanjutnya akan dilakukan pengolahan.
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas menggunakan rumus analisis korelasi yang digunakan yaitu person product moment digunakan untuk mencari hubungan dan menguji hipotesis antara dua variabel atau lebih bila datanya berbentuk interval atau ratio. Taraf kesalahan yang digunakan adalah 5 % dengan ketentuan bila harga z hitung lebih besar dibandingkan harga Z table, maka koefiesien korelasi adalah signifikan atau–Z table lebih kecil dari – Z hitung, maka koefisien korelasi adalah  signifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta, pada tanggal 28 Juli 2010. sekolah tersebut berada di wilayah Jl. Kaliurang KM. 10 Gentan  Sinduharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta. Letak sekolah sangat trategis karena tidak jauh dari jalan raya utama, sehingga memudahkan untuk dijangkau oleh siswa.
            Analisis dilakukan berdasarkan jawaban yang diberikan kepada responden kemudian ditabulasikan dan ditafsirkan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan. Analisis yang dilakukan dikelompokkan berdasarkan pada karakteristik responden dan tanggapan responden.
1.    Karakteristik Responden
a.    Umur Responden



 Gambar 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur
a.    Jenis Kelamin Responden

Gambar 2.  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin




2.   Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi.


     Gambar 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi
 
3.   Sikap terhadap perilaku seksual bebas
Hasil penelitian terhadap 71 responden diperoleh data sebagai berikut:
Gambar 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Bebas


 4.   Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi  Dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Bebas Pada Siswa Di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta.
Berdasarkan data-data dari 71 responden yang ada di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman  Yogyakarta tahun 2010, setelah diperoleh score kedua variabel yaitu variable tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas, kemudian dilakukan pengujian normalitas data sebagai berikut: uji normalitas menggunakan uji kolmogorov smirnov.. Dari hasil pengolahan data tersebut didapatkan nilai Z dari Kolomogorov smirnov untuk variabel pengetahuan sebesar 1,125 dengan p-value 0,159 > 0,05 dan variabel sikap Zhitung =0,961 dengan p-value = 0.314 > 0,05 maka data berdistribusi normal.
Analisis data yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman  Yogyakarta dengan menggunakan uji statistik parametrik Product Moment Pearson pada tingkat kepercayaan 95% (α 0,05).
Hasil uji statistik  prametrik yang dilakukan berdasarkan data dari 71 responden di SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta  untuk mendapatkan hasil uji data statistik koefisien korelasi dilakukan dengan memakai uji korelasi product moment, dengan taraf kesalahan 0,05. Dari hasil pengolahan data tersebut didapatkan nilai rxy = 0,528 dan p-value = 0,000 < 0,05 sehingga terdapat hubungan yang signifikan  antara tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas. Hal ini menunjukkan bahwa makin baik tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi  maka semakin  rendah untuk mendukung seksual bebas.
KESIMPULAN
1.      Tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMK Bina Harapan Sleman Yogyakarta  sebagian besar (40,8%) termasuk kategori cukup.
2.      Sikap terhadap perilaku seksual bebas pada siswa SMK Bina Harapan  Sleman Yogyakarta sebagian besar 74,6%menunjukkan sikap  tidak mendukung.
3.      Ada hubungan negatif yang signifikan antara tingkat pengetahuan tenang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap perilaku seksual bebas pada siswa SMK Bina Harapan Sinduharjo SlemanYogyakarta, p value 0,000. Artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi maka semakin tidak akan mendukung sikap terhadap perilaku seksual bebas.

SARAN
1.    SMK Bina Harapan Sinduharjo Sleman Yogyakarta
Menjalin kerjasama dengan pemerintahan dan organisasi non pemerintah untuk memberikan pelayanan khusus pada remaja mengadakan program yang tepat guna dalam pendidikan seks.
2.    Bagi peneliti selanjutnya.
      Penelitian lebih lanjut diharapkan lebih banyak menambahkan variabel yang diteliti, terutama faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap perilaku seksual bebas pada remaja.

KEPUSTAKAAN
Ajen D, 2003, Pendidikan Seks untuk Remaja, Kawan Pustaka, Jakarta.
Arikunto, Suharsini, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta.
Azwar, S, 2002, Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, Liberty, Jakarta.
BKKBN., 2000, Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), Kantor Menteri Kependudukan, Jakarta.
Cahyo N, 2006, Cegah Maraknya Seks Bebas, Kedaulatan Rakyat, Selasa 5 Desember 2006
Depkes RI, 2002, Kesehatan Reproduksi Remaja, Yogyakarta, 2002, Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta.
Faulinah, (2005). Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Pada Usia 12-19 Tahun di Madrasah ‘Aliyah Negeri II Yogyakarta. Karya Tulis Ilmiah Program Pendidikan D-III Kebidanan. STIKES Aisyiyah, Yogyakarta.
Hurlock E.B., 1997, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan, Erlangga, Jakarta.
___________, 2000, Psikologi Perkembangan, Arcan, Jakarta.
Kartono, kartini., 2008, kenalan remaja, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ningrum, Widia Astri, (2007). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Kenakalan Remaja di SMA Taman Madia Yogyakarta, Karya Tulis Ilmiah Program Pendidikan D-III Kebidanan. STIKES Aisyiyah, Yogyakarta.
Notoatmojo, S, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
___________, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
___________, 2003, Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
___________, 2006, Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Nurfitriyati, Latifah (2009). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Remaja Puteri Tentang Kehamilan Tidak Diiginkan Di SMA Negeri 10 Yogyakarta. Karya Tulis Ilmiah Program Pendidikan D-III Kebidanan. Poltekkes Depkes, Yogyakarta.
Nurrochmawati, Ike (2009) Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Reproduksi Dengan Sikap Perilaku Ses Pranikah Pada Siswa Kelas XI MAN Yogyakarta. Skripsi Program Studi D-IV Kebidanan Poltekkes Depkes Yogyakarta.
Sarwono, 2003, SW., Psikologi Remaja, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sofyan S.Willis, 2008, Remaja dan Masalahnya, Alfabeta Bandung.
Sugiyono, 2007, Statistik untuk Penelitian, Alfabeta Bandung.
Wijarnako, 1999, Seksualitas Remaja, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Widyastuti, Y., Rahmawati, A., 2009. Kesehatan Reproduksi, Fitramaya, Yogyakarta.
www.pkbi-diy.info.com.2010
 

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment